Kesehatan

Perbedaan Signifikan Antara Anoreksia dan Bulimia

Perbedaan Signifikan Antara Anoreksia dan Bulimia

Sama-sama tergolong dalam gangguan perilaku makan, namun kenyataannya Anoreksia dan Bulimia memiliki perbedaan yang cukup jelas. Walaupun begitu, para penderitanya kerap tidak menyadari akan perilaku abnormalnya tersebut. Apabila pada akhirnya menyadari, mereka akan berusaha menutupi karena merasa malu bahkan jijik dengan dirinya sendiri. Lalu, apa saja perbedaan di antara dua jenis gangguan tersebut?

3 Perbedaan Utama Penderita Anoreksia dan Bulimia

  1. Penderita Anoreksia Identik dengan Tubuh yang Sangat Kurus, Bulimia Tidak

Seseorang yang menderita Anoreksia identik dengan tubuh yang kurus karena mengalami penurunan berat badan secara drastis. Bahkan, mereka dapat mencapai tingkatan kurus yang berada di bawah normal. Hal tersebut karena mereka sangat takut gemuk sehingga selalu melakukan segala cara untuk menghindari walaupun sebenarnya berat badan mereka terhitung normal.

Berbeda halnya dengan penderita Bulimia. Tubuh yang sangat kurus bukan menjadi indikasi mutlak karena rentang berat badan mereka antara normal hingga gemuk. Penderita tetap memiliki badan yang berisi karena masih ada asupan makanan yang terserap oleh tubuh. Namun, ada kalanya penderita Bulimia mengalami siklus tubuh yang terlihat kurus walaupun tidak bertahan lama.

  1. Penderita Anoreksia Takut Makan, Penderita Bulimia Justru Kebalikannya

Rasa takut akan kegemukan yang sangat besar membuat penderita Anoreksia membatasi makanan seketat mungkin. Bahkan ketika merasa lapar, mereka akan tetap menahan diri untuk tidak mengonsumsi apapun. Tidak hanya membatasi makan, mereka juga menempuh berbagai cara ekstrim agar mencegah kenaikan berat badan. Depresi karena tekanan hidup juga kerap membuat nafsu makannya hilang.

Sedangkan kasus serupa tidak terjadi pada penderita Bulimia. Walaupun sama-sama takut mengalami kenaikan berat badan, namun penderita Bulimia tetap memiliki nafsu makan yang tidak terkendali. Ketakutan akan gemuk hanya muncul sebagai sebuah rasa penyesalan setelah mengonsumsi banyak makanan. Sehingga mereka berusaha untuk memuntahkan atau berolahraga secara tidak wajar.

  1. Penderita Anoreksia Kerap Tidak Menstruasi, sedangkan Bulimia Berbeda

Anoreksia akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan penderita secara keseluruhan. Apabila tidak segera diatasi, maka akan menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan ginjal, kerontokan rambut, penurunan tekanan darah, dan gangguan hormon yang menyebabkan menstruasi terhenti atau amenore. Kondisi amenore tersebut berpeluang lebih besar apabila berat badan terus mengalami penurunan yang drastis ditambah stres.

Terjadinya amenore atau terhentinya menstruasi dapat disebabkan oleh stres dan gangguan hormon yang kedua hal tersebut dialami oleh penderita Bulimia. Namun, prosentase peluang terjadinya amenore lebih tinggi untuk penderita Anoreksia dibandingkan Bulimia. Biasanya, gangguan menstruasi yang dialami penderita Bulimia adalah ketidakteraturan jadwal atau perbedaan rentang terjadinya masa menstruasi.

Perbedaan tersebut bukan menandakan ‘mana’ yang lebih baik dibandingkan ‘mana’ karena keduanya sama-sama memiliki resiko yang negatif bagi penderita. Dibutuhkan penanganan yang tepat dan komprehensif agar penderita tidak sampai mengalami komplikasi. Selain itu, pengawasan jangka panjang juga tetap diperlukan karena masih ada kemungkinan kedua gangguan perilaku makan tersebut kambuh sewaktu-waktu.